Un-Distinction: Lebaran, Keluarga, dan Teror ‘Kapan Sukses?’ dalam Tunggu Aku Sukses Nanti (2026)
Oleh Nimas Safira Widhiasti Wibowo “The problem is not to make political films, but to make films politically.” —Jean-Luc Godard Lebaran sering dibayangkan sebagai momen pulang, bertemu keluarga besar dalam suasana hangat, sekaligus menjadi jeda dari hiruk-pikuk kehidupan. Namun, melalui Tunggu Aku Sukses Nanti , momen itu terasa seperti kebalikannya. Alih-alih menjadi tempat bernaung, keluarga justru berubah menjadi ruang evaluasi. Obrolan ringan di meja makan perlahan bergeser menjadi sesi perbandingan hidup. Sesuatu yang, sejujurnya, sangat familiar dalam kehidupan kita, rata-rata masyarakat negara ini pada umumnya. Film Tidak Lagi Sekadar Escapism Selama ini, film sering dielu-elukan sebagai bentuk escapism , yakni ruang pelarian dari lelahnya realitas—rutinitas—maupun eksistensi diri. Kata pakar, menonton film dapat memicu pelepasan dopamin, yaitu hormon yang berkaitan dengan rasa senang dan kepuasan. Artinya, film pada dasarnya memberi pengalaman emosional yang menyenangkan, bah...