Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Esok Tanpa Ibu (2026): Sebuah Distopia tentang Rindu

Oleh: Nimas Safira Widhiasti Wibowo —barangkali suatu hari nanti, yang paling sulit bukan kehilangan seseorang, melainkan menerima kenyataan bahwa teknologi bisa membuat kita merasa seseorang tersebut tidak pernah benar-benar pergi. Mukadimah Saya tidak terlalu takut AI mengambil pekerjaan manusia. Saya lebih takut AI mengambil orang-orang yang sudah pergi. Agak lebay? Mungkin. Tetapi setelah menonton Esok Tanpa Ibu , saya justru merasa pertanyaan semacam ini lebih mengganggu daripada pertanyaan klasik tentang apakah robot suatu hari akan menguasai dunia. Toh, untuk apa robot menguasai dunia kalau manusia sudah cukup sibuk menyerahkan hidupnya sendiri kepada mesin? Tulisan ini sendiri bukan saya buat karena film ini buruk—dan saya tidak berniat menjatuhkan tema progresif yang berusaha keluar dari zona nyaman hantu dan kehantuan. Tidak, justru sebaliknya, saya malah merasa film garapan Ho Wi Ding ini punya ide yang terlalu besar untuk hanya dijadikan drama keluarga dengan tempelan tekno...

Postingan Terbaru

Un-Distinction: Lebaran, Keluarga, dan Teror ‘Kapan Sukses?’ dalam Tunggu Aku Sukses Nanti (2026)

INI SEBUAH CERITA PENDEK : Program Penyesuaian Persepsi Nasional (PPPN)