Armadilo, si Revolusioner.

 Blue, gadis yang tampak semakin tua—punggungnya linu berdenyut diterpa hajat orang banyak, sementara lengannya hitam legam dibayang-bayangi santiran. Yah well— sepertinya cukup dahsyat untuk membuat geger seluruh kampung.


Gadis yang dikiranya naif itu melenguh panjang. Tentu saja dalam kebisuan, karena tak mau membangunkan armadilo di pangkuannya—meskipun sebenarnya ia tak punya kewajiban untuk menenangkan binatang itu.


Dengan malu-malu, dibelainya tempurung baja itu, asal saja karena sisiknya tumpang tindih—kasar—tidak rata. “Kira-kira kalau sudah besar nanti aku akan jadi apa ya?” tanya sambil mendongak menatap langit yang sebentar lagi hujan.


“Apa aku akan bertumbuh menjadi seekor kupu-kupu jelita?”


“Oh— ataukah aku akan menjadi seekor salmon yang maniak bertaruh nyawa agar bisa mencapai tempat kelahirannya?”


“Atau mungkin justru lebih mirip kura-kura congak yang mujur mengalahkan kelinci, padahal hanya sekali saja?”


“Ah— tapi bisa jadi aku justru bermetamorfosis menjadi kapibara yang suka makan kotoran sendiri? Ew.”


Blue tetap mengoceh, meski tahu armadilo terlalu malas untuk menggubrisnya. Binatang itu mungkin sudah terlalu lelah untuk menjawab seluruh kebingungan remaja. Sekali lagi, dia bukan robot pintar buatan China.


Blue termenung, mengangkat tubuh Armadilo perlahan. Menatap bilik mata sendu itu. Fokus. Hingga kemudian gadis itu tertawa tipis, menyadari kebodohannya—sejujurnya lebih mirip smirk yang dibuat tanpa latihan matang.


Sedetik kemudian, Ia kemudian berteriak lantang, matanya membara, “Aku sudah memutuskan, aku akan menjadi sepertimu. Aku akan menjadi seekor armadilo.“


Mendengar hal itu, si armadilo untuk pertama kali dalam hidupnya tersenyum simpul. Selesai sudah tugasnya untuk menghasut.


Oh, jangan khawatir. Perjuangan tidak berakhir.

Komentar

Postingan Populer