INI SEBUAH CERITA PENDEK : Program Penyesuaian Persepsi Nasional (PPPN)


Butuh waktu lebih dari dua puluh lima tahun untuk memahami bahwa manusia tidak takut pada kebohongan. Manusia hanya takut pada kenyataan yang tidak memiliki narasi. Setidaknya begitulah tangkapan saya atas pemikiran Jean Baudrillard dalam mega-hits teori konspirasinya, simulacra. Jadi saya visualisasikan maksudnya…



OI, seorang pemuda jangkung berkacamata, tampak sibuk mengedipkan mata di depan cermin kamarnya. Jemarinya sesekali bergerak di udara seolah sedang memilih sesuatu yang hanya dapat ia lihat sendiri. Hari itu ia memutuskan tampil dengan gaya safari musim panas: kemeja biru-kuning dengan rumbai jaring di bagian bawah, celana pendek berwarna cokelat susu, sepasang sepatu keluaran terbaru—yang bahkan ia sendiri lupa mereknya, serta topi fedora yang menurutnya mampu menyamarkan rambut hitamnya yang mulai menipis.


Ia mengangguk puas kepada bayangannya.


Padahal, jika kacamata yang dikenakan pemuda itu dilepaskan dan seseorang melihatnya tanpa mengenakan kacamata tersebut, yang tampak hanyalah setelan putih polos tanpa motif. Setelan itu memang sengaja dirancang sebagai kanvas kosong agar perangkat tersebut dapat membentuk tampilan apa pun sesuai keinginan penggunanya. Dengan demikian, apa yang dilihat OI hanyalah hasil olahan sistem yang berpusat pada kacamata, bukan pakaian yang benar-benar dikenakan pemuda itu.


Begitulah kehidupan di kota itu.


Tidak ada lagi yang benar-benar berpakaian seperti yang terlihat. Tidak ada lagi gedung yang pasti berwarna abu-abu atau biru. Bahkan wajah seseorang pun dapat berbeda-beda, bergantung pada siapa yang sedang memandangnya.

Semua bermula dari benda yang kini bertengger di pangkal hidung OI.


Kacamata yang kelihatannya biasa saja itu. Modelnya macam kacamata yang biasa kita temukan di semesta kita. Tapi jangan salah, ialah sumber ke-chaosan kota itu.


Lima tahun sebelumnya, pemerintah meluncurkan sebuah kebijakan ambisius bernama Program Penyesuaian Persepsi Nasional. Program tersebut diperkenalkan sebagai tonggak peradaban baru. Dalam pidato peresmiannya, The King dengan menggebu-gebu menyebut bahwa konflik sosial selama ini bukan lahir karena kenyataan, melainkan karena setiap orang memandang kenyataan dengan cara yang berbeda. Dan… jika persepsi dapat diseragamkan, masyarakat diyakini akan hidup lebih tertib, lebih damai, dan lebih bahagia.


Dana yang digelontorkan untuk proyek itu nyaris tak terbatas. Anggaran pendidikan dipangkas, pembangunan ditunda, sumber energi dikurangi, sementara hampir seluruh sumber daya negara diarahkan untuk menyempurnakan teknologi persepsi. Pabrik-pabrik dibangun di seluruh negeri, perwakilannya wajib dibangun di seluruh distrik. Kalau sudah tidak ada lahan? Ya, pasti ada kok, tanah pemakaman kan masih ada.


Tidak sedikit yang mempertanyakan kebijakan tersebut. Mulai dari mahaterpelajar hingga tukang renung memenuhi lapangan Yang-Kuasa-Dewan-Perwakilan untuk menyampaikan protesnya. 


Namun suara-suara itu segera tenggelam oleh slogan propaganda yang terus diputar di televisi, papan reklame, hingga pengeras suara di ruang publik: "Dunia yang sama akan melahirkan masyarakat yang adil. Tidak ada yang lebih penting daripada penampilan, bahkan tak sekalipun perut yang kenyang."


OI termasuk orang yang beruntung. Berkat sepupunya yang duduk sebagai anggota dewan, namanya masuk ke dalam daftar relawan tahap pertama. Ia bahkan menerima perangkat itu beberapa bulan sebelum dipasarkan kepada masyarakat luas. Kala itu ia menganggap dirinya sedang memegang masa depan.


Cara kerja kacamata tersebut sebenarnya tidak serumit istilah-istilah yang dipakai para ilmuwan dalam konferensi pers. Perangkat itu tidak bermaksud untuk mengubah dunia, tidak memindahkan benda, tidak memperbaiki bangunan, apalagi membuat kenyang perut rakyat.


Yang diubah hanyalah cara mata menerima dunia. Di balik lensa beningnya tertanam jaringan proyeksi mikro yang terhubung langsung dengan saraf penglihatan. Setiap kali pengguna membuka mata, sistem akan memindai seluruh objek di hadapannya dalam hitungan milidetik. Data itu kemudian diproses oleh kecerdasan buatan yang membandingkannya dengan jutaan standar estetika, norma sosial, dan preferensi visual yang telah ditetapkan pemerintah. Hasil akhirnya dikirim kembali ke retina sebagai lapisan citra baru yang menimpa kenyataan.


Karena itulah sang pemakai akan melihat jalan berlubang tampak mulus meski ban kendaraan tetap berguncang ketika melintasinya. Cat tembok yang mengelupas terlihat seperti baru selesai dicat kemarin sore. Sampah yang menumpuk di sudut gang berubah menjadi hamparan pot bunga yang tertata rapi. Genangan air yang keruh dipantulkan sebagai kolam kecil dengan permukaan jernih.


Pemerintah menyebut teknologi itu sebagai lapisan realitas terfilter. Katanya, manusia akan lebih produktif jika tidak terus-menerus disuguhi pemandangan yang mengganggu. Keindahan, menurut mereka, adalah hasil dari memperbaiki cara manusia memandang dunia. Bukan memperbaiki dunia. 


Versi pertama kacamata itu disambut meriah. Antrean pembagian mengular hingga beberapa kilometer. Masyarakat saling sikut ingin membawa pulang benda itu paling dahulu. Meskipun penuh babak belur tak apa, yang penting mereka pulang dengan senyum lebar setelah menyaksikan kota berubah dalam hitungan detik. Jalan yang semula kusam mendadak tampak bersih, taman kota terlihat lebih hijau, dan langit seolah selalu memilih warna biru terbaiknya setiap pagi.


"Puja The King… Yang-Terhormat akhirnya menemukan cara membuat negeri ini indah," begitu komentar kroco-kroco yang berulang kali muncul di televisi. Padahal, petugas kebersihan tetap berjumlah sama. Lubang di jalan masih menunggu giliran ditambal. Sungai tetap mengalir membawa sampah. Tidak ada yang benar-benar berubah selain apa yang tertangkap oleh mata. Luar biasa, klaim mereka.


Setahun kemudian lahirlah versi kedua. Pemerintah mengumumkannya sebagai pembaruan yang telah lama dinantikan masyarakat. Kali ini bukan hanya lingkungan yang diperhalus, tetapi juga interaksi antarmanusia. OI mulai menyadari perubahan itu ketika seorang pria menabrak bahunya di stasiun. Dulu ia mungkin akan melihat wajah yang kesal atau mendengar umpatan pelan. Kini yang tampak hanyalah senyum tipis disertai ucapan, "Maaf."


Anehya, suara pria itu tetap terdengar ketus.


Di situlah OI mulai memahami dahsyatnya pembaruan. Kacamata tersebut bukan sekadar memperbaiki pemandangan, Ia juga menyunting ekspresi.


Kerutan dahi diterjemahkan menjadi wajah tenang. Tatapan sinis berubah menjadi sorot mata ramah.

Bibir yang mengumpat tetap terlihat mengucapkan kata-kata sopan.


Pemerintah menyebut fitur itu sebagai Harmonisasi Ekspresi, teknologi yang diklaim mampu menurunkan konflik sosial hingga delapan puluh persen. Statistiknya diputar setiap malam di semua saluran televisi. Warga bertepuk tangan. Para pakar mengangguk puas. Tidak ada yang sempat bertanya bagaimana angka itu dihitung.


Dua tahun setelahnya, versi ketiga diperkenalkan.

Kali ini slogan yang terpampang di seluruh kota berbunyi:


"Jadilah siapa pun yang ingin kau lihat."


Seseorang dapat mengenakan jas mahal tanpa pernah membelinya. Seorang pengemudi ojek dapat terlihat seperti direktur perusahaan. Rumah kontrakan dapat tampak menyerupai vila di pegunungan. Bahkan gedung pemerintahan yang catnya mulai pudar dapat dipilih tampil dengan warna emas mengilap apabila pengguna mengaktifkan tema Kemajuan Nasional.


Semua itu hanya membutuhkan satu kedipan mata.


OI menyukai fitur tersebut. Setiap pagi ia berganti pakaian tanpa pernah membuka lemari. Setiap sore ia mengganti warna langit menjadi jingga karena menurutnya matahari terbenam seharusnya selalu indah.


Maka bisa dikatakan kacamata itu tak lagi sekadar memuluskan kenyataan. Perangkat tersebut memberi penggunanya kebebasan untuk menyusun dunia sesuai selera. Mereka bebas berkreasi, tetapi tidak bebas berpendapat. Di era 3.0, pemerintah dengan bekingan militer mewajibkan setiap warga mengenakannya. Siapa pun yang terlihat tanpa kacamata akan segera dicurigai, dihentikan, dan diperlakukan sebagai ancaman terhadap ketertiban.


Alasannya sebenarnya cukup sederhana. Menurut pemerintah, kacamata itu semata-mata dibuat demi kepentingan masyarakat. Tidak ada yang disembunyikan, tidak ada pihak yang diuntungkan, dan tidak ada agenda lain di balik kebijakan tersebut. Semuanya murni demi kenyamanan, keamanan, dan kesejahteraan warga. Yah.. well— Setidaknya, begitulah klaim yang terus mereka ulang.


OI melenggang pergi sambil mengunci pintu kondominiumnya. Arloji di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 10.00. Ia tidak terlalu terburu-buru, meski seharusnya sudah menghadiri janji yang dijadwalkan satu jam lalu. Toh, paling semua orang juga datang terlambat.


Sebelum benar-benar melangkah pergi, ia sempat tersenyum menatap gundukan bunga beraroma bangkai di samping pintu. Tak apa baunya busuk, yang penting enak dipandang.






Notes : Seluruh isi cerita ini murni karya fiksi dan lahir dari imajinasi penulis. Semua tokoh, peristiwa, maupun latar yang muncul tidak dimaksudkan untuk menggambarkan kejadian nyata. Semua ini terjadi di semesta lain... bukan di dunia kita.


Eh... memangnya mungkin ada yang seperti ini benar-benar terjadi di Bumi?


Kalau terasa mirip dengan kenyataan, itu murni kebetulan. Atau mungkin... kita memang tinggal di semesta yang salah.



Komentar

Postingan Populer