Esok Tanpa Ibu (2026): Sebuah Distopia tentang Rindu
Oleh: Nimas Safira Widhiasti Wibowo
—barangkali suatu hari nanti, yang paling sulit bukan kehilangan seseorang, melainkan menerima kenyataan bahwa teknologi bisa membuat kita merasa seseorang tersebut tidak pernah benar-benar pergi.
Mukadimah
Saya tidak terlalu takut AI mengambil pekerjaan manusia. Saya lebih takut AI mengambil orang-orang yang sudah pergi.
Agak lebay? Mungkin. Tetapi setelah menonton Esok Tanpa Ibu, saya justru merasa pertanyaan semacam ini lebih mengganggu daripada pertanyaan klasik tentang apakah robot suatu hari akan menguasai dunia. Toh, untuk apa robot menguasai dunia kalau manusia sudah cukup sibuk menyerahkan hidupnya sendiri kepada mesin?
Tulisan ini sendiri bukan saya buat karena film ini buruk—dan saya tidak berniat menjatuhkan tema progresif yang berusaha keluar dari zona nyaman hantu dan kehantuan. Tidak, justru sebaliknya, saya malah merasa film garapan Ho Wi Ding ini punya ide yang terlalu besar untuk hanya dijadikan drama keluarga dengan tempelan teknologi.
Film ini bercerita tentang Rama, seorang pemuda yang memiliki hubungan sangat dekat dengan ibunya, Laras. Sementara relasinya dengan ayahnya, Hendri, justru terasa renggang. Ketika Laras mengalami kecelakaan dan berada dalam kondisi koma, dunia Rama seperti kehilangan pusat gravitasinya. Di tengah situasi tersebut, hadirlah i-BU, sebuah artificial intelligence yang dikembangkan oleh sahabat Rama untuk merangsang fungsi otak ibunya.
Sampai sini semuanya masih terdengar aman. Anak kehilangan ibu. Anak merindukan ibu. Teknologi datang membawa harapan. Keluarga yang tersisa mencoba bertahan. Penonton menangis terharu melihat relasi ayah–anak. Lampu bioskop menyala. Pulang. Selesai.
Tapi justru tidak sesederhana itu. Saya merasa Esok Tanpa Ibu sebenarnya sedang menyentuh sesuatu yang jauh lebih mengerikan, yakni ketakutan manusia terhadap kehilangan dan godaan teknologi untuk membuat kehilangan terasa tidak pernah terjadi. Karena pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah AI bisa menjadi manusia. Itu pertanyaan yang terlalu mudah, bahkan untuk anak SD. Semua orang tahu AI secara harfiah bukan ibu kita.
Pertanyaan yang lebih mengganggu justru berbunyi seperti ini: Kalau AI terdengar seperti ibu, berbicara seperti ibu, mengingat kebiasaan kita seperti ibu, dan selalu tersedia ketika kita membutuhkan ibu—berapa lama sampai kita berhenti peduli apakah ia benar-benar ibu atau bukan?
Nah. Kalau jawabannya adalah tidak peduli, kita punya masalah. Dan dari sinilah Esok Tanpa Ibu berpotensi masuk ke wilayah distopia. Saya tidak mendefinisikan distopia dengan visual yang gembar-gembor, macam dunia yang penuh gedung terbakar, pemerintah otoriter, robot bersenjata, atau manusia yang dikejar mesin. Saya justru membayangkan sesuatu yang jauh lebih sederhana, dan karenanya lebih menyebalkan, yaitu distopia domestik. Sebuah keadaan ketika manusia perlahan-lahan tidak lagi mampu membedakan antara menerima kehilangan dan mempertahankan simulasi.
Dan justru itu masalahnya.
Manusia memang aneh kalau sudah berurusan dengan kematian. Kita membuat makam agar seseorang tetap punya tempat. Menyimpan foto supaya wajahnya tidak hilang. Menyimpan pakaian karena aromanya terasa seperti kehadiran. Memutar rekaman suara orang yang sudah pergi hanya untuk mendengar sekali lagi cara mereka memanggil nama kita. Atau membaca pesan lama meskipun tahu tidak akan pernah ada pesan baru.
Manusia sebenarnya sudah lama punya teknologi untuk melawan kehilangan. Namanya ingatan. Dulu, hal itu berlangsung melalui akal, kenangan, foto, video, atau rekaman suara. Sekarang teknologinya sedikit lebih canggih. Ia punya nama baru: artificial intelligence. AI bisa merespons, belajar dari data, menyesuaikan percakapan, bahkan menciptakan sensasi bahwa seseorang masih berada di sana.
Dan di sinilah saya merasa film ini terlalu sopan kepada idenya sendiri. Esok Tanpa Ibu seolah masih sibuk meyakinkan kita bahwa AI tidak dapat menggantikan ibu. Padahal, saya justru ingin melihat bagaimana jika film ini berani membawa gagasan tersebut ke tempat yang lebih gelap, lebih mengganggu, dan lebih mahal secara emosional.
Kalau Ibu Bisa Diunduh, Siapa yang Sebenarnya Sedang Kita Ajak Bicara?
Drama keluarga sebenarnya adalah bentuk horor yang paling dekat dengan manusia: tentang kehilangan, ketakutan ditinggalkan, dan orang-orang yang paling kita cintai.
Kita dasarnya tahu Esok Tanpa Ibu dibaca sebagai drama keluarga, namun sejatinya juga sebagai science fiction yang menggunakan teknologi untuk membicarakan sesuatu yang sangat manusiawi.
Darko Suvin menyebut konsep cognitive estrangement sebagai salah satu ciri penting fiksi ilmiah, yakni menghadirkan sesuatu yang terasa asing atau belum biasa agar kita bisa melihat kehidupan yang sebenarnya kita jalani dengan cara yang berbeda (Suvin, 1972).
Dalam Esok Tanpa Ibu, teknologi i-BU menjadi pintu masuknya. Menurut saya, ini salah satu bagian yang paling menarik dari film karena i-BU tidak ditempatkan sebagai teknologi futuristik yang sekadar mengejar kata “Wah..” dari penonton. Ia justru masuk ke persoalan keluarga. Rama tidak membutuhkan robot canggih. Ia membutuhkan ibunya. Dan kebetulan, teknologi itu datang menawarkan sesuatu yang sekilas terlihat seperti jawaban atas kebutuhan tersebut.
Yang membuat premisnya bekerja adalah cara film mempertemukan teknologi dengan hubungan Rama dan Laras. Film ini memang tidak sepenuhnya mengembangkan pertanyaan tersebut sampai menjadi persoalan filosofis yang berat, tetapi menurut saya justru di situlah kekuatan sekaligus kelemahannya. Idenya menarik, tetapi filmnya terasa masih menahan diri.
Saya rasa Ho Wi Ding sudah menemukan bahan yang sebenarnya bisa dibuat jauh lebih mengganggu, tetapi kemudian kembali menarik kita ke wilayah drama keluarga, sebuah wilayah yang relatif lebih akrab dan mudah diterima oleh penonton Indonesia.
Padahal, konsep i-BU membuka kemungkinan yang jauh lebih besar. Hari ini manusia sudah meninggalkan begitu banyak jejak digital, sebut saja foto, rekaman suara, percakapan, unggahan media sosial, video, kebiasaan, bahkan berbagai informasi pribadi yang secara tidak langsung menggambarkan siapa diri kita. Maka Esok Tanpa Ibu tinggal mendorong keadaan tersebut sedikit lebih ekstrem, tentang bagaimana kalau seluruh jejak itu dapat dikumpulkan dan diolah menjadi simulasi seseorang?
Maka persoalannya bukan lagi apakah i-BU realistis atau tidak, melainkan apa yang terjadi ketika manusia mulai menganggap representasi digital sebagai bagian dari orang yang sebenarnya? Gagasan Jean Baudrillard tentang simulacra dan hyperreality terasa tepat untuk membaca kemungkinan tersebut. Baudrillard membahas bagaimana representasi dapat berkembang sedemikian rupa sampai batas antara realitas dan representasi menjadi semakin sulit dibedakan (Baudrillard, 1994).
Dalam film, i-BU pada dasarnya hanyalah konstruksi dari Laras. Rama tentu tahu bahwa benda itu bukan ibunya. Namun, mengetahui bahwa sesuatu yang bukan kenyataan tidak selalu berarti kita mampu memperlakukannya sebagai sesuatu yang tidak nyata. Kita bisa tahu sebuah foto bukan orang yang kita rindukan, tetapi tetap menangis ketika melihatnya. Kita tahu rekaman suara bukan kehadiran seseorang, tetapi tetap memutarnya berulang-ulang karena mendengar suara tersebut membuat kita merasa sedikit lebih dekat.
Menurut saya, di titik ini film sebenarnya punya rapor yang bagus. Saya suka pilihan narasi yang membuat teknologi memiliki alasan emosional untuk berada di dalam cerita. Namun, saya juga merasa film ini terlalu cepat puas dengan kemungkinan itu. Ibarat kita baru diajak mengetuk pintunya, tetapi sudah disuruh pulang.
Film sudah memberikan pertanyaan tentang apakah i-BU benar-benar Laras, tetapi belum sepenuhnya berani memperlihatkan konsekuensi ketika Rama mulai benar-benar memperlakukan i-BU sebagai Laras. Menurut saya film ini belum sepenuhnya membawa potensi filosofis sampai sejauh itu.
Esok Tanpa Ibu tetap lebih kuat sebagai drama tentang keluarga dan kehilangan daripada sebagai science fiction yang benar-benar menggugat hubungan manusia dengan teknologi. Jadi ini bukan berarti filmnya jelek. Justru saya merasa filmnya punya fondasi yang bagus. Hubungan Rama, Laras, dan Hendri membuat teknologi terasa memiliki fungsi dalam cerita. Premis i-BU juga cukup segar untuk film Indonesia karena ia tidak sekadar menggunakan AI sebagai aksesori lapis kedua.
Hanya saja, setelah memberikan premis sebesar itu, saya sebagai penonton jadi berharap lebih—termasuk adik saya yang penggila existential drama. Adik saya ingin filmnya lebih tega kepada karakternya. Ia ingin melihat konsekuensi dari teknologi itu dibuat lebih jauh, bukan hanya kemungkinan-kemungkinannya diperlihatkan sebentar.
Mungkin itu sebabnya setelah menonton saya merasa lebih gemas daripada kecewa.
Film ini seharusnya bisa bergerak dari drama keluarga menjadi kritik tentang ketergantungan, identitas, dan cara manusia menggunakan teknologi untuk menunda kenyataan.
Distopia yang Tidak Harus Terlihat Seperti Masa Depan
Distopia tidak selalu dimulai ketika negara menjadi otoriter. Kadang, ia dimulai ketika manusia perlahan menyerahkan hal-hal paling manusiawi kepada sesuatu yang mereka ciptakan sendiri.
Ketika mendengar kata distopia, bayangan kita biasanya langsung pergi terlalu jauh. Kota masa depan yang penuh gedung tinggi, pemerintahan yang mengawasi warganya, robot yang memburu manusia, atau masyarakat yang hidup di bawah sistem yang represif. Padahal, distopia tidak harus selalu tampil semegah itu. Intinya bukan sekadar dunia yang buruk, melainkan sebuah kondisi ketika perkembangan tertentu yang seharusnya menawarkan kemudahan justru menciptakan bentuk kehidupan yang semakin mengasingkan manusia dari dirinya sendiri.
Dalam industri perfilman Indonesia, gambaran distopia seperti ini sebenarnya belum terlalu sering menjadi pilihan utama. Ketika sinema Indonesia berbicara tentang masa depan dan teknologi, kita lebih sering menemukan pendekatan yang bersinggungan dengan science fiction, fantasi, horor, atau aksi.
Salah satu contoh yang paling eksplisit adalah Foxtrot Six (2019) karya Randy Korompis. Film ini membayangkan Indonesia masa depan ketika kelangkaan pangan, kekuasaan politik, dan teknologi bertemu dalam sebuah dunia yang penuh konflik. Foxtrot Six menggunakan dunia distopia sebagai fondasi konflik politiknya. Di tahun yang sama, ada pula The Science of Fictions (Hiruk-Pikuk Si-Alkisah) karya Yosep Anggi Noen yang mengambil jalur yang jauh lebih absurd dan alegoris. Film ini memperoleh Special Mention Award di Locarno dan kemudian diputar dalam program World Focus Festival Film Tokyo. Kemudian muncul 24 Jam Bersama Gaspar (2024), yang mungkin lebih dekat dengan gambaran distopia kontemporer. Film tersebut membawa penonton ke Indonesia masa depan yang penuh pengawasan, ketimpangan, kejahatan, dan krisis kemanusiaan.
Dengan kata lain, distopia di sini bekerja sebagai lingkungan sosial ketika manusia tidak hanya hidup di masa depan, tetapi hidup dalam sistem yang telah membuat masa depan tersebut menjadi sesuatu yang tidak nyaman.
Menariknya, Esok Tanpa Ibu mengambil jalan yang berbeda. Film ini tidak membangun dunia masa depan melalui pemberontakan politik seperti Foxtrot Six. Ia juga tidak menjadikan distopia sebagai dunia besar yang harus dijelaskan melalui banyak aturan seperti 24 Jam Bersama Gaspar. Bahkan, kalau kita hanya melihat permukaannya, Esok Tanpa Ibu lebih dekat dengan drama keluarga. Tetapi justru di sinilah saya melihat kemungkinan distopia yang berbeda, yang saya sebut distopia domestik—melokal. Dan menurut saya, ini jauh lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Karena kita hidup dalam masyarakat yang sangat lekat dengan keluarga. Ibu punya peran penting dalam pusat emosional rumah tangga. Karena itu, ketika teknologi menawarkan kemampuan untuk mempertahankan sosok seorang ibu yang telah hilang, persoalannya menjadi jauh lebih rumit daripada sekadar pertanyaan apakah teknologi tersebut canggih.
Maka, seperti yang sudah saya singgung, Esok Tanpa Ibu sebenarnya memiliki kemungkinan untuk menjadi film distopia Indonesia yang sangat khas dan melokal. Ia tidak perlu meniru dunia futuristik Barat macam Black Mirror. Distopianya justru bisa lahir dari sesuatu yang sangat Indonesia: keluarga dan kehilangan.
Saya justru membayangkan sebuah dunia ketika teknologi seperti i-BU tidak lagi dianggap aneh. Ia menjadi produk biasa. Ada aplikasi untuk membuat kembali suara orang tua yang sudah meninggal. Mungkin saja ada layanan berlangganan untuk mempertahankan avatar pasangan. Bahkan mungkin ada anak-anak yang tumbuh dengan mengenal orang tuanya bukan melalui kenangan, tetapi melalui model AI yang terus diperbarui dari jejak digital mereka.
Menariknya, film ini memang sejak awal tidak dibangun sebagai proyek kecil yang hanya ingin membuat drama keluarga sederhana. Film tersebut dikembangkan sejak 2020 dan menjadi kolaborasi lintas negara antara Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Ho Wi Ding, sutradara asal Malaysia, dipilih untuk menggarap film ini, sementara proses produksinya melibatkan BASE Entertainment, Beacon Films, dan Refinery Media. Bahkan untuk menghadirkan dunia masa depan tanpa membuat biaya produksi menjadi terlalu besar, tim produksi menggunakan virtual production dalam sebagian proses syuting.
Pilihan terhadap Ho Wi Ding juga menarik. Ia bukan sekadar sutradara kaleng-kaleng yang datang untuk menerjemahkan cerita Indonesia ke layar. Ia memiliki pengalaman mengerjakan film lintas bahasa dan budaya, termasuk Pinoy Sunday yang menggunakan bahasa Tagalog. Shanty Harmayn bahkan menjelaskan bahwa Ho Wi Ding tertarik dengan skenario Esok Tanpa Ibu dan menerima tantangan untuk membuat film berbahasa Indonesia.
Artinya, ada ambisi sinematik yang cukup jelas di balik film ini untuk membawa cerita yang sangat lokal ke persoalan yang sebenarnya bersifat global, yaitu hubungan manusia dengan AI.
Dan mungkin karena itulah saya merasa sedikit gemas. Sebab kalau film ini hanya ingin menjadi drama keluarga, sebenarnya ia sudah cukup berhasil. Tetapi kalau ia ingin bermain di wilayah science fiction, ia sudah memiliki premis yang jauh lebih besar. Bahkan, penulis Gina S. Noer menjelaskan bahwa relasi AI, ibu, dan lingkungan memang sengaja ditempatkan dalam satu benang merah, termasuk hubungan antara ibu sebagai manusia, ibu pertiwi, dan ibu bumi.
Itulah definisi distopia yang menurut saya lebih menarik untuk Indonesia. Bukan masa depan ketika mesin menguasai manusia. Melainkan masa depan ketika manusia dengan sukarela meminta mesin menggantikan sesuatu yang terlalu sakit untuk mereka kehilangan.
Penutup: Sebuah Renungan
Kalau suatu hari kita bisa menciptakan kembali orang-orang yang kita cintai, apakah yang sebenarnya sedang kita pertahankan: mereka, kenangan tentang mereka, atau ketakutan kita sendiri untuk kehilangan?
Daftar Pustaka
Baudrillard, J. (1994). Simulacra and simulation (S. F. Glaser, Trans.). University of Michigan Press. https://doi.org/10.3998/mpub.9904
Suvin, D. (1972). On the poetics of the science fiction genre. College English, 34(3), 372–382. https://doi.org/10.2307/375141
Ho Wi Ding, D. (Sutradara). (2026). Esok Tanpa Ibu [Film]. BASE Entertainment, Beacon Films, dan rumah produksi terkait. Informasi film dan premis didukung oleh sejumlah ulasan film 2026. https://www.teater.co/read/review-film-esok-tanpa-ibu-duka-relasi-keluarga-dan-bayang-bayang-ai%2Csdjptnd?
Komentar
Posting Komentar