Un-Distinction: Lebaran, Keluarga, dan Teror ‘Kapan Sukses?’ dalam Tunggu Aku Sukses Nanti (2026)
Oleh Nimas Safira Widhiasti Wibowo “The problem is not to make political films, but to make films politically.” —Jean-Luc Godard
Lebaran sering dibayangkan sebagai momen pulang, bertemu keluarga besar dalam suasana hangat, sekaligus menjadi jeda dari hiruk-pikuk kehidupan. Namun, melalui Tunggu Aku Sukses Nanti, momen itu terasa seperti kebalikannya. Alih-alih menjadi tempat bernaung, keluarga justru berubah menjadi ruang evaluasi. Obrolan ringan di meja makan perlahan bergeser menjadi sesi perbandingan hidup. Sesuatu yang, sejujurnya, sangat familiar dalam kehidupan kita, rata-rata masyarakat negara ini pada umumnya.
Film Tidak Lagi Sekadar Escapism
Selama ini, film sering dielu-elukan sebagai bentuk escapism, yakni ruang pelarian dari lelahnya realitas—rutinitas—maupun eksistensi diri. Kata pakar, menonton film dapat memicu pelepasan dopamin, yaitu hormon yang berkaitan dengan rasa senang dan kepuasan. Artinya, film pada dasarnya memberi pengalaman emosional yang menyenangkan, bahkan ketika cerita yang disajikan penuh konflik. Ia hadir untuk memberikan debaran penuh tanda tanya kapan tokoh utamanya berakhir bahagia atau tragis kepada penonton
Namun, tidak semua film bekerja dengan cara seperti itu. Mengacu pada pemikiran Stuart Hall, media, termasuk film tidak lagi sedang merefleksikan realitas, tetapi juga turut membingkai realitas melalui narasi tertentu. Film dalam hal ini mengambil potongan kehidupan, mengolahnya, lalu menyajikannya kembali sebagai sesuatu yang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat
Di titik inilah Tunggu Aku Sukses Nanti (2026) menjadi menarik. Alih-alih memberi rasa lega, film ini malah meninggalkan perasaan berat setelah ditonton. Karena… terus terang, penonton tidak sedang kabur dari hidupnya—seperti klaim Mazhab Frankfurt misalnya, melainkan justru dipaksa untuk menatap kembali pengasihan diri yang, entah bagaimana, dikemas menjadi semakin dramatis.
Fenomena ini rasanya makin menjadi-jadi dalam beberapa tahun terakhir. Sebut saja banyak film mulai menargetkan generasi muda, khususnya Gen Z yang berada di fase transisi menuju dewasa: menghadapi tuntutan finansial, ekspektasi keluarga, hingga realitas sebagai sandwich generation. Kehidupan yang kompleks ini kemudian dirapikan dalam narasi film, diberi sentuhan dramatis, dan pada akhirnya dikonsumsi sebagai komoditas yang ironi. Pada akhirnya segala tetek bengek middle low class profile, keluarga, atau yang mereka sebut ‘quarter life crisis’ seakan divalidasi oleh satu negara, dan kenyataan bahwa menjadi dewasa adalah pekerjaan paling menakutkan sedunia. Maka semua orang tidak boleh ketinggalan kereta, harus menonton!
Dan Tunggu Aku Sukses Nanti reading the wave, ia mencoba menjadi bagian dari tren tersebut, sebuah film niatnya memang menjual kesedihan Gen-Z, yang bersusah payah mencoba keras menanamkan kesamaan emosional otoriter dengan pengalaman penontonnya.
Ketika Keluarga Jadi Arena Perbandingan
Premis film ini sebenarnya sederhana, bahkan maaf… nyaris klise. Seorang laki-laki di awal usia dewasa, berasal dari keluarga yang baik-baik, memiliki pasangan, tetapi belum memiliki pekerjaan yang jelas. Di saat yang sama, sepupu-sepupunya datang dengan pencapaian yang bisa dipamerkan, karier mapan, pendidikan tinggi, dan gaya hidup yang terlihat berhasil.
“Sekarang kerja di mana?” atau “Berapa pendapatan sebulan?”
Dalam perspektif Pierre Bourdieu, situasi ini bisa dibaca sebagai bentuk kekerasan simbolik (symbolic violence), yaitu tekanan yang tidak terlihat sebagai kekerasan, karena disampaikan secara halus dan dianggap wajar. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tampak biasa, bahkan normatif, tetapi sebenarnya membawa standar tertentu tentang apa itu hidup yang berhasil?. Dan karena dibungkus dalam bahasa yang santai dan datang dari keluarga, tekanan ini menjadi sulit ditolak.
Un-Distinction: Saat Hangat dan Tekanan Menyatu
Saya menyebut Konsep Un-Distinction sebagai bekal untuk memahami keseluruhan situasi ini. Un-Distinction yang saya curi dari perspektif Bourdieu, dalam bayangan saya secara sederhana bisa dipahami sebagai kaburnya batas antara dua hal yang sebelumnya dapat dibedakan. Dimana saya melihat batas antara kehangatan keluarga dan tekanan sosial tidak lagi jelas, kabur, bercampur-dicampur. Dalam kondisi semacam ini, sulit bagi individu untuk benar-benar membedakan: apakah ia sedang dicintai, sedang didukung, atau justru sedang diarahkan untuk memenuhi standar tertentu. Di sinilah Un-Distinction menjadi penting, karena ia membantu melihat bagaimana dua hal yang semestinya dapat dibedakan justru melebur dan menghasilkan pengalaman yang ambigu. Kehangatan tidak lagi sepenuhnya hangat, sementara tekanan tidak selalu terasa sebagai tekanan.
Dan dalam film ini, lebaran secara tegas digarisbawahi sebagai ruang di mana standar sosial bekerja, diulang, dan diperkuat. Tidak ada lagi pemisahan yang tegas antara rumah sebagai tempat pulang dan dunia luar sebagai sumber tekanan. Akibatnya, individu tidak pernah benar-benar memiliki ruang untuk beristirahat dari tuntutan, bahkan di rumahnya sendiri.
Di titik inilah, film ini terasa mengerikan. Karena itu, tidak berlebihan jika Tunggu Aku Sukses Nanti saya baca sebagai semacam genre horor sosial, di mana ketakutan datang hal-hal yang justru paling dekat: keluarga dan ekspektasi saling membandingkan yang dianggap wajar.
Ditutup dengan Kurang Ajar
Sepanjang film, penonton diajak mengikuti naik-turunnya kehidupan Arga yang terasa cepat. Film ini terasa memikul beban besar untuk merangkum begitu banyak isu yang dekat dengan keseharian. Mulai dari tekanan psikologis, relasi keluarga, pertemanan, persoalan finansial, hingga percintaan. Tidak ada yang salah dengan itu, justru terlihat jelas bahwa pembuat film ingin memotret kompleksitas kehidupan Gen Z yang memang tidak pernah berjalan secara linier.
Namun, ada satu hal yang mengganjal. Film ini seolah menutup cerita tanpa memberikan ruang penyelesaian yang jangkep, terutama dalam relasi Arga dengan mantan kekasihnya, Andin. Sosok yang telah menemaninya bertahun-tahun itu ditinggalkan begitu saja, tanpa permintaan maaf. Naya Anindita, sutradara film ini memilih untuk membingkai Arga sebagai laki-laki yang memprioritaskan kariernya, dan keputusan itu tidak pernah benar-benar dipertanggungjawabkan secara emosional di dalam cerita. Naya Anindita menutup film ini dengan keberatan hati penonton—terlebih adik saya yang ngamuk-ngamuk karena sudah terlanjur suka dengan karakter Andin sejak menit pertama. Di titik ini, film ini terasa—jujur saja sedikit kurang ajar.
Rasanya film ini berhenti pada resolusi yang setengah-setengah. Fokus hanya diberikan pada perjalanan personal Arga, sementara luka yang ditinggalkan pada mantan kekasihnya itu tidak benar-benar diselesaikan.
Namun, saya berusaha super positif. Yah.. mungkin di sisi lain, justru di situlah film ini terasa realistis. Karena dalam kehidupan nyata, tidak semua cerita berakhir dengan permintaan maaf. Dan tidak semua orang punya keberanian untuk menutup hubungan dengan cara yang layak. Bisa jadi, ini adalah cara Naya Anindita ingin menyampaikan pesan yang lebih lantang, terutama bagi perempuan: bahwa menemani seseorang dari nol, dalam fase pencarian jati diri, tidak selalu akhirnya adalah pernikahan. Ada risiko ditinggalkan ketika kesuksesan itu akhirnya bisa dikejar.
Entahlah. Yang jelas, bagi saya, tindakan Arga tetap tidak bisa dibenarkan. Dan justru karena itulah, bagi saya performa Ardit Erwandha sebagai Arga terasa perlu diacungi jempol. Ia berhasil menyampaikan pesan frustrasi Arga dengan ciamik.
Dan mungkin, saya sekali lagi mencoba positif, disitulah keberhasilan film ini: membuat penonton memahami tokohnya. Serta mempertanyakan kira-kira apakah kita pernah menjadi seperti Arga?
Komentar
Posting Komentar